Hari itu, Lara mendatangi gedung tempat perusahaan Raveno Group untuk menemui ibu mertuanya. Pembatalan tiket pesawat tanpa alasan membuat Lara curiga. Lara langsung masuk dan disambut hangat oleh salah satu sekretaris Ny. Ria.
"Nyonya ada urusan apa ke sini?"
"Aku ingin menemuinya."
"Nyonya ada di ruangannya. Biar saya antar ke tempat Nyonya besar."
....
"Suruh dia masuk!"
"Baik Nyonya!"
Brak, Lara masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Tampak Oma Ria duduk di meja kerjanya.
"Tidak sopan sekali masuk tanpa seizinku?"
"Itu tidak penting lagi. Saya ada urusan dengan Anda."
Ny. Ria meminta sekretarisnya untuk keluar.
"Bicaralah!"
"Apa Ray datang ke sini?"
"Untuk apa kamu tanya soal itu?"
"Saya tanya, apa Ray datang ke sini?"
"Benar!" Ucap oma Ria sambil membenarkan kacamatanya.
"Apa yang Anda lakukan pada Ray?"
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Anda memanfaatkan Ray untuk bisnis Anda bukan?"
"Memanfaatkan? Apa maksudmu?"
"Ray Anda jadikan alat untuk ambisi anda bukan? Kenapa Anda lakukan itu?"
"Alat?" Oma Ria mengelak. "Justru aku memberinya kesempatan untuk dikenal sebagai keluarga Raveno, harusnya kamu senang dengan itu."
"Aku memberi kesempatan Ray untuk membuktikan kemampuannya, kalau dia berhasil, akan aku pertimbangkan menjadikan Ray sebagai pewaris bisnis dari keluarga Raveno, lagipula dia tidak menolak sama sekali. Apa kamu keberatan dengan itu Lara?"
Lara diam kali ini, ia memang menginginkan agar anaknya bisa diterima sebagai keluarga Raveno, setidaknya Ray memiliki hak sebagai pewaris sah keluarga Raveno.
....
Lara keluar dari gedung meninggalkan ruangan oma Ria. Tak sengaja Stefan yang barusaja selesai rapat melihatnya dari kejauhan.
"Lara!" Stefan memanggilnya.
Stefan ikut kaget kenapa Lara ada di sini. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku menemui mama kamu."
"Mamah? Apa dia melakukan sesuatu lagi?"
Lara menggeleng, ia mencoba tersenyum di hadapan Stefan. "Enggak kok, semua baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
Lara mengangguk. "Kalau begitu aku akan pulang." Belum sempat Lara melangkah, Stefan menahannya.
"Sampai kapan kamu seperti ini Lara!"
Lara pelan-pelan melepas cengkraman Stefan. "Stefan, ingat perjanjian kita dulu kalau aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi."
Stefan tak terima, langsung saja ia menarik Lara pergi dari sana dan menuju ke mobil. Lara hanya diam tanpa melawan kali ini.
Mereka terpaksa membicarakan masalah ini di dalam mobil.
"Aku minta maaf!" Itulah kalimat yang bisa Stefan ucapkan padanya.
"Aku bukan suami yang baik untuk keluarga kita."
"Sudahlah Stefan, jangan menyalahkan diri sendiri."
"Aku bahkan tidak bisa melindungi Ray."
"Kamu ayah yang hebat, selama ini Ray tumbuh menjadi pribadi yang sangat menawan itu lebih dari cukup. Lagipula dia mirip denganmu bukan?" Lara mencoba mencairkan suasana agar tak tegang.
Stefan tertawa, "benar, dia sangat mirip denganku."
"Dua hari lagi ulang tahun Ray, aku harap kamu juga mengucapkan selamat ulang tahun padanya."
"Ulang tahun?" Stefan baru sadar.
"Apa kamu lupa saat pertama kali Ray datang ke dunia ini, hari itu semua menjadi indah, aku seperti memiliki kehidupan baru dengan hadirnya Ray di sini."
"Ah malam itu..."
"Apa kamu ingat?"
Oeeekk oeeekkk....
Seorang bayi kecil terlahir dengan sangat sempurna, wajahnya yang masih merah dengan pipi chubbynya. Lara menangis dengan hadirnya sang buah hati, sementara Stefan mendampinginya di samping.
"Anak kita Stefan."
"Sangat tampan, seperti ayahnya."
"Terima kasih sayang sudah menghadirkan malaikat kecil ke dunia ini." Stefan mengecup kening Lara dengan lembut.
Lara dan Stefan tertawa kecil mengingat hari itu. Hari dimana Ray pertama kali terlahir di dunia. Tak ada yang menyangka kebahagiaan mereka sebentar saat perpisahan dengan anaknya.
Kehadiran Ray turut membuat Malika ikut bahagia, apalagi saat itu Malika juga memiliki bayi yang berusia 6 bulan bernaam Julian.
"Ray sangat manis Lara, pasti kalau besar nanti Ray akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan."
"Julian pun akan sama, sama seperti ayahnya bukan?"
Malika dan Lara tampak begitu akur dengan menggendong bayi masing-masing. Namun kehadiran Ray tak diterima keluarga Raveno bahkan oma sangat membenci kehadiran Ray dalam keluarga.
Terlihat saat Ray berusia 3 tahun, dan bersamaan saat ulang tahun Julian, semua anak-anak diundang dan menggelar pesta besar. Begitu juga dengan namanya anak-anak, apalagi anak yang aktif seperti Ray. Ia berlarian dan menjatuhkan kue ulang tahun Julian ke lantai. Sontak suasana pesta yang awalnya ceria menjadi suram. Oma yang mengetahui kalau Ray lah dalang dari hancurnya pesta cucunya Julian begitu marah besar padanya.
Lara dan Malika datang menenangkan kedua anaknya, namun ucapan oma pada Ray membuat anak kecil itu menangis.
"Ray sayang, sudah nggak papa." Lara mencoba menenangkannya.
Ketidakadilan di keluarga Raveno juga terlihat saat oma lebih dan lebih menyayangi Julian ketimbang dirinya. Julian adalah kakaknua, wajar oma sangat menyayanginya. Namun Ray terkadang iri dengan sikap omanya yang berlebihan seperti memberikan mainan yang banyak pada Julian.
Dan ketika ulang tahun Ray, tak seperti Julian yang begitu mewah. Ulang tahunnya hanya dihadiri mamanya.
"Selamat ulang tahun jagoan Mamah!"
"Ini hadiah ulang tahun buat Ray."
"Ini isinya apa Mah?"
"Buka saja, pasti Ray senang."
Ray langsung membukanya, ia begitu senang mendapatkn pesawar mainan. "Wahh, inikan mainan yang aku suka, terima kasih Mah!"
"Iya sayang."
Hari itu juga adalah hari perpisahan dengan mamanya. Lara berpamitan akan pergi ke singapura untuk waktu yang lama. Ray menangis sejadi-jadinya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Aku mau kalian jaga Ray, tolong sayangi dia."
"Lara, apa kamu yakin dengan keputusan ini?"
"Lara, aku akan bicara dengan mama, tetaplah tinggal, bagaimana dengan Ray nanti?" Stefan seperti tak rela.
Lara melihat anaknya Ray menangis yang ditenangkan oleh babysitter.
"Mama, jangan pergi mamah!"
Lara menangis melihat anaknya. "Malika, tolong jaga Ray selama aku tidak ada, tolong rawat dia seperti kamu merawat anak kamu Julian."
"Lara, aku akan merawat Ray seperti anakku sendiri."
Stefan memeluk Lara untuk yang terakhir kalinya sebelum Lara benar-benar pergi.
***
"Ray... Ray!" Panggil Angel saat melihat Ray duduk melamun di taman.
Barusaja Angel membelikan dua es krim di pinggir jalan saat mereka sedang jalan-jalan sepulang sekolah ke taman kota.
"Kamu dari tadi aku lihat ngelamun aja. Mikirin apa sih?"
Ray menerima es krim yang dibawa Angel."Nggak ada apa-apa kok." Ray seperti pintar menyembunyikan perasaannya.
"Kamu yakin?" Angel tahu sikap Ray tak bisa dibohongi.
"Aku hanya rindu mama, itu aja!"
"Mama? Tante Lara?"
Ray mengangguk.
"Oh iya, kemarin aku ketemu sama tante Lara di toko, terus kita ngobrol-ngobrol deh, tante Lara juga mau bantuin aku buat kue. Ray bagimana kalau kita ketemu sama mama kamu?"
"Kamu yakin?"
Angel mengangguk. "Ayok!" Angel menarik tangan Ray untuk bangkit lantas mereka pun pergi.