"Selamat siang Tante!" Seru Angel saat datang ke butik tempat Lara saat ini sedang mengurus butik fashionnya.
Kedatangan Angel dan Ray tentu disambut hangat oleh Lara, apalagi saat melihat Ray datang menemuinya.
"Angel, Ray!"
Angel mencium tangan Lara dan memeluknya.
"Mama!" Lara juga memeluk Ray anaknya.
"Kalian tumben ke sini, ada apa nih?"
"Ray bilang, dia rindu sama—" belum selesai berucap, mulut Angel sudah dibungkam oleh Ray untuk menyuruhnya diam.
"Aku cuma mau nemuin mama doang kok."
Lara hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Angel juga bilang kalau mamah mau ngajarin bikin kue."
"Oh iya, Tante sudah janji bukan?"
"I-iya tante hehe!"
Hari itu juga Lara mengajak Angel dan Ray belanja ke supermarket, sambil membawa troly Ray bertugas mendorong sementara Angel dan Lara tampak begitu akrab sambi memilih barang belanjaan untuk membuat kue.
"Tepung ini apa ini tante?" tanya Angel dengan dua tepung ditangannya.
"Ini aja. Oh ya Angel sekalian keju."
"Oh oke Tante!" Angel mengambil botol keju.
Di belakang Ray hanya diam mengikuti kemanapun Angel dan mamahnya belanja. Beberapa kali ia menguap lebar karena bosan sementara Lara dan Angel terlihat asik belanja.
Setelah belanja kebutuhan untuk memvuat kue, mereka mampir ke toko pakaian. Ray mendapat tugas membawa barang belanjaan dari belakang.
"Ini cantik banget ya Tan?" Angel mengambil dress merah muda.
"Cantik, kalau kamu yang pakai pasti akan lebih cantik lagi."
"Kalau begitu Angel coba ya Tante!"
Angel pun mencoba di ruang ganti. Sementara Lara masih memilih pakaian sembari menunggu Angel.
"Tante, lihat!" Angel sudah berganti gaun yang barusaja dipilihnya.
Dress merah muda selutut tanpa lengan. Angel tampak begitu anggun mengenakannya.
"Wah gaun itu sangat cocok sama kamu Angel," puji Lara.
Ray yang melihat tanpa sadar tak berkedip dan menjatuhkan barang belanjaan yang dibawanya saking takjubnya. Lara yang melihat hanya tersenyum kecil.
"Kamu memang cantik memakai gaun apa saja, beruntung sekali Ray menemukan bidadari yang begitu cantik ini, iyakan Ray?" Lara mencoba menggoda Ray yang masih terpesona dengan penampilan Angel.
"Ahh, i..iyaa..."
"Lihat Angel, Ray bahkan terpesona sama kamu lho!" Godanya lagi.
Angel tersipu. "Tante bisa aja!"
Lara lalu menarik tangan Ray untuk bersanding di samping Angel. Keduanya tampak begitu canggung.
"Sempurna!"
Angel tersenyum pada Ray begitupun sebaliknya.
Selesai belanja, mereka lalu makan di salah satu restoran. "Kamu harus makan yang banyak," ucapnya pada Angel.
"Makasih Tante!"
Lara melihat Ray gantian, lantas ia memberikan sepotong daging dan menyuapi Ray.
"Mamah, nggak usah!"
"Aaaaa!" Lara seperti menyuapi.
Angel yang melihat hanya tersenyum kecil.
"Ray!" Lara sedikit melotot saking kesalnya Ray tak kunjung membuka mulutnya. Ray terlihat malu dilihatin banyak orang di tempat itu.
Angel melakukan hal yang sama, ia menyendok makanan di depan Ray. Namun kali ini Ray malah lebih memilih sendok Angel ketimbang Lara.
"Jadi begitu, baiklahh!" Lara cemberut.
Ray tersenyum kecil melihat mamanya yang kesal karena ulahnya. Ia pun giliran menyuapi mamanya dan kali ini mamanya luluh dan mau makan disuapi Ray.
Ketiganya terlihat bahagia dan saling bercanda sambil tertawa bahagia.
***
Sepulang sekolah, Julian langsung masuk ke kamarnya. Saat melewati kamar mamanya, tak sengaja Julian mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
"Kita sudah membuat perjanjian Stefan bahkan sebelum perjodohan kita dilaksanakan waktu itu."
"Kamu harus lakukan sesuatu untuk Lara, ini sudah saatnya kamu melawan. Jangan biarkan orang yang kamu cintai pergi lagi."
Malika duduk di samping Stefan yang terlihat frustasi. "Aku tahu perasaan kamu masih sama Stefan, bahkan saat Lara meninggalkanmu lebih dari 10 tahun."
"Seharusnya aku lebih tegas waktu itu, aku begitu lemah Malika membiarkan orang yang kucintai pergi."
Malika mencoba menenangkan Stefan dengan memegang tangannya. "Aku akan membantumu menemukan kebahagiaan itu kembali. Aku janji Stefan."
"Malika?!"
"Itu janjiku pada Lara saat dia menitipkan Ray padaku waktu itu. Selama 10 tahun Lara juga menitipkan kamu untukku, kebahagiaan bersamamu dan juga Julian. Itu lebih dari cukup dan sekarang giliranku yang akan berkorban untuk kalian." Malika tampak meneteskan air matanya seperti berat mengatakan kalimat itu pada Stefan, walau dalam hatinya ia juga mencintai Stefan.
"Perjodohan? Papa sama mama?" Julian yang menguping dari balik pintu terkejut mendengar kenyataan itu.
"Jadi selama ini?"
Deg!
"Julian!" Panggil Ray yang barusaja pulang ke rumah dan tak sengaja berpapasan dengan Julian saat menuju ke kamarnya.
Julian gelagapan saat Ray menghampirinya.
"Lo ngapain berdiri di depan kamar mama?"
"Bu-bukan apa-apa." Julian pun langsung bergegas pergi dengan sedikit terburu-buru.
"Woi Julian!"
Suara Ray ternyata juga mengejut Malika dan Stefan yang masih berbicara di luar. Keduanya langsung keluar dari kamar.
"Julian!" Malika keluar.
Ray yang tak tahu menahu hanya bisa menggelengkan kepala. "Apa Julian sejak tadi di sini Ray?"
Ray mengangguk. Malika langsung panik. "Memangnya ada apa dengan Julian?" Tanyanya lagi.
"Aku akan berbicara dengan Julian, Mas!"
Kini tinggal Ray dan Stefan ayahnya yang masih berdiri di sana.
"Kamu baru pulang Ray?"
Ray mengangguk, "iya, barusan aku menemui Mama!"
"Bagaimana kabar mama kamu, apa dia baik-baik saja?" Tanyanya lagi.
"Dia baik."
"Syukurlah!"
"Ada apa dengan Julian? Kenapa sikapnya aneh tadi?"
"Mungkin Julian sedang ada masalah, Mama kamu pasti bisa membujuknya kembali."
Ray masih penasaran. Sikap Julian tadi benar-benar diluar dugaannya. Ia langsung pergi begitu saja.
"Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" Kini Ray beralih mencurigai kedua orang tua mereka.