Aku sebenarnya bukan tipe yang suka menyendiri.
Dulu, aku cukup periang—berlari tanpa beban, berteman dengan siapa saja yang kutemui, seolah dunia adalah tempat yang aman.
Tapi seiring waktu, aku mulai sadar...
Hidup tak selalu berjalan seperti yang kita mau.
Dan apa yang kita mau... belum tentu ada dalam hidup.
--
Aku menoleh, sedikit terkejut ketika seseorang memanggil namaku.
"Iya," jawabku singkat.
Gadis itu menatapku lurus.
"Aku Anita. Ketua kelas 11-3," ucapnya datar, tanpa senyum, tanpa basa-basi.
Aku hanya mengangguk. Bukan karena mengerti, tapi karena tidak tahu harus merespons apa.
"Ayo, aku ajak kamu keliling sekolah."
Ia sempat melirik jam di pergelangan tangannya.
"Kita masih punya lima belas menit sebelum kelas dimulai lagi," tambahnya, tenang namun tegas.
Aku ingin menolak. Rasanya lebih nyaman duduk diam sendiri. Tapi sebelum sempat membuka mulut, dia sudah berbalik dan melangkah lebih dulu—tanpa menunggu persetujuanku, seolah tak memberi ruang untuk menolak.
Dan aku pun terpaksa mengikuti langkahnya.
--
"Kamu sudah tahu kan di mana ruang guru?"
"Aku nggak akan jelaskan lagi," ucap Anita datar.
"Di sebelah situ ada toilet siswa dan siswi. Setiap lantai punya toilet masing-masing."
Ia menunjuk arah lorong panjang di sisi lain.
"Ujung sana ruang UKS. Kalau kamu nggak enak badan, tinggal izin dan istirahat di sana."
Ia bicara tanpa banyak jeda, sambil tetap berjalan perlahan.
"Kita juga punya laboratorium, ruang musik, dan ruang seni."
"Semuanya ada di lantai tiga—terpisah dari ruang kelas. Jadi kelas hanya ada di lantai satu dan dua," sambungnya tanpa menoleh.
Aku tetap diam, hanya mengikuti langkahnya sambil melirik ke arah ruangan-ruangan yang ia sebutkan. Meski tanpa ekspresi, aku mendengarkan semuanya.
Saat kami menyusuri lantai satu, langkah kami terhenti ketika seseorang memanggil dari kejauhan.
"Anitaaa!" seru seorang siswa sambil mendekat.
Kami sama-sama menoleh. Itu Devan—siswa yang tadi disebut-sebut para gadis di kelas.
Mata kami sempat bertemu, sekilas saja, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Anita.
"Nanti jadi ketemu di café biasa?" tanyanya santai.
"Iya... kalau nggak ada halangan, kita ketemu di sana seperti biasa," jawab Anita tenang.
"Baiklah," ucap Devan, lalu berbalik dan kembali ke lapangan, melanjutkan permainan basketnya seolah tak ada yang terjadi.
Aku menatap punggungnya sejenak. Lalu kembali melangkah mengikuti Anita—yang sejak awal, tak pernah berhenti berjalan.
--
Anita berhenti di depan sebuah area terbuka yang cukup ramai. Bau makanan menyeruak di udara, tawa dan obrolan siswa saling bersahutan di antara meja-meja makan.
"Itu kantin," ucapnya tanpa menoleh. "Sebagai siswa di sini, kamu bisa makan di sini secara gratis."
Aku mengangguk pelan, menunjukkan bahwa aku mengerti.
"Sejauh ini, ada yang mau kamu tanyakan?" tanyanya, menoleh sekilas ke arahku.
Mungkin karena sejak tadi aku hanya diam, mendengarkan tanpa banyak respon.
"Tidak," jawabku singkat.
"Baiklah," katanya sambil membalikkan badan.
"Ayo, kita kembali ke kelas."
Tanpa menunggu, ia kembali berjalan lebih dulu, seperti sebelumnya—tenang, cepat, dan tetap tak banyak bicara. Aku menghela napas kecil, lalu mengikuti langkahnya lagi.
--
Dalam perjalanan kembali ke kelas, aku menoleh sekilas ke arah Anita yang berjalan di sampingku.
Langkahnya tenang, tak terburu-buru. Entah kenapa, aku jadi ingin bertanya sesuatu yang tadi sempat mengganggu pikiranku.
"Aku nggak lihat kamu di kelas tadi pagi," ucapku akhirnya.
Rasa penasaran membuatku membuka suara.
"Aku ikut olimpiade. Baru balik pas jam istirahat tadi," jawabnya singkat.
"Oh... kamu ikut olimpiade?" tanyaku, sedikit terkejut.
Ia mengangguk. "Pria tadi... dia juga ikut olimpiade bareng aku," sambungnya tanpa ditanya.
Aku menoleh, tapi tidak memberi komentar.
Sejujurnya, aku tidak bertanya tentang pria itu—tapi mungkin dia merasa perlu menjelaskan.
Aku hanya mengangguk kecil, tak ingin memperpanjang percakapan.
Sesampainya di kelas, kami duduk di kursi masing-masing.
Hari pertama di sekolah baru ini... cukup melelahkan.
---
Hari itu pun akhirnya selesai.
Aku berjalan meninggalkan sekolah seperti siswa lainnya—tanpa suara, tanpa tujuan selain ingin segera pulang dan beristirahat.
Sesampainya di rumah, Mama tampak sudah menungguku di ruang tamu. Wajahnya menyambutku dengan senyum hangat, seperti biasa.
"Hai, Sayang. Gimana hari pertama sekolahmu?"
"Menyenangkan?" tanyanya lembut.
Aku meletakkan tas di sofa, lalu menjawab singkat,
"Seperti biasa. Nggak ada yang istimewa."
Mama mengangguk pelan. Ia tahu, anaknya ini bukan tipe yang mudah terbuka—dan tidak pernah mudah untuk beradaptasi.
"Iya, nggak apa-apa... Tapi kalau ada kesulitan, bilang ke Mama atau Papa, ya," ucapnya dengan nada tenang.
Aku tak menjawab, hanya menatapnya sekilas lalu melangkah menuju kamarku.
Ada banyak hal yang ingin kurasa, tapi terlalu lelah untuk merasakannya. Hari ini cukup untuk membuatku ingin diam, lagi.
---
"Oh ya... Mama mau minta tolong," ucap Mama tiba-tiba.
Aku menoleh, menatapnya dengan sedikit rasa penasaran—dan jujur saja, bertanya-tanya apa lagi yang akan diminta kali ini.
"Tetangga kita tadi datang membawa makanan untuk kita," lanjutnya.
"Mama berniat membalas dengan makanan yang Mama buat juga, sebagai tanda terima kasih."
"Kamu mau, kan, antar ke rumahnya?"
"Hanya berjarak dua rumah dari sini kok," tambahnya sambil tersenyum.
Dalam hati, aku ingin menolak. Kenapa harus aku yang mengantarkan? Bukankah Mama sendiri juga bisa?
Tapi seperti biasa, aku memilih diam. Mungkin karena lelah, mungkin karena tak ingin membuat suasana canggung.
"Baiklah, Ma," jawabku akhirnya.
"Tapi aku mandi dulu, ya. Badanku lengket," sambungku sambil berjalan pelan.
Mama mengangguk sambil membelai rambutku dengan lembut.
Aku pun melangkah menuju kamar, meletakkan pakaian, lalu masuk ke kamar mandi.
Air hangat mengalir membasahi tubuh—dan untuk beberapa saat, aku membiarkan diriku tenang. Setidaknya di tempat ini, aku bisa diam tanpa harus menjelaskan apa-apa.
---
Aku melangkah perlahan, membawa semangkuk makanan buatan Mama. Tatapanku sesekali melirik ke arah nomor rumah yang disebutkan tadi.
Langkahku terhenti di depan rumah bernomor 89D.
"Ini, ya..." gumamku pelan.
Jaraknya memang hanya dua rumah dari rumah kami, dan nomornya cocok.
Aku mendekat ke pintu, lalu mengetuk pelan.
Tuk… tuk…
"Permisi…" panggilku, setengah ragu.
Tidak ada sahutan. Rumah itu tampak sepi.
Aku menunggu sebentar, lalu mengetuk lagi.
Tuk… tuk…
Masih tidak ada jawaban.
Aku menghela napas, mulai berpikir untuk kembali ke rumah. Tapi sebelum sempat berbalik—
"Siapa?"
Suaranya terdengar tepat di belakangku.
Tubuhku membeku. Sebelum sempat menoleh, tanganku gemetar dan—
Drekk!
Mangkuk itu terlepas dari genggaman, jatuh dan pecah menghantam lantai. Makanan berserakan, sebagian menyiprat ke kakiku.
Dengan jantung berdegup cepat, aku perlahan menoleh ke belakang.
Seorang pria berdiri di sana.
Wajahnya… aku mengenalnya.
Dia adalah Devan.
To be continued..