---
Devan melangkah santai menyusuri kompleks perumahan tempat ia tinggal. Langit mulai berubah jingga, udara sore terasa hangat. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis berdiri di depan pintu rumahnya.
Seorang gadis asing.
Tak pernah ia lihat sebelumnya.
Dan setahunya, tak ada gadis seusia itu yang tinggal di lingkungan ini.
“Siapa…”
Brukk!
Suara pecahan terdengar keras.
Devan tersentak. Gadis itu—yang kini diketahui adalah Sora—berbalik dengan wajah terkejut. Mangkuk yang ia bawa terlepas dari tangannya, pecah menghantam lantai teras, menyebar kuah dan serpihan beling.
Mereka saling menatap.
Dan di saat itu juga, keduanya saling mengenali.
Mereka sudah bertemu—di sekolah, siang tadi.
“Apa yang kamu lakukan di depan rumahku?” tanya Devan datar, namun matanya penuh tanya.
Sora menatapnya, lebih terkejut lagi.
“Maaf… Ini rumahmu?” gumamnya.
Devan tidak langsung menjawab. Ia masih menunggu penjelasan dari gadis yang kini berdiri kikuk di hadapannya.
“Oh, maaf,” ucap Sora buru-buru, “Aku baru pindah ke kompleks ini. Ibuku meminta aku mengantar masakannya ke tetangga, dan katanya rumahnya nomor 89D…”
Matanya menunduk, menatap lantai yang kini berantakan oleh kuah dan pecahan beling.
“Aku… akan membereskannya,” ucap Sora, hendak jongkok.
Namun Devan segera menahan geraknya.
“Tak usah,” ucapnya.
“Biarkan pekerja di sini yang bersihkan. Kau bisa terluka.”
Sora mendongak, sempat tercengang karena perhatian itu. Tapi ia hanya mengangguk pelan.
“Maaf, tadi aku sudah mengetuk beberapa kali, tapi tak ada yang menjawab,” jelasnya.
Tepat saat itu, pintu utama terbuka.
Seorang pekerja rumah terlihat terburu-buru ke luar.
“Ya ampun, apa yang terjadi?” tanyanya panik ketika melihat lantai yang kotor dan pecahan kaca di mana-mana.
“Bi, tolong bersihkan, ya,” ujar Devan tenang namun tegas.
“Baik, Tuan,” ucap pekerja itu, lalu segera kembali untuk mengambil peralatan pembersih.
Sora menggigit bibir bawahnya, merasa sangat bersalah.
“Maaf ya… Aku benar-benar nggak sengaja bikin terasmu kotor…”
Devan mengangguk kecil. “Tidak apa-apa.”
“Kalau begitu… aku pamit dulu,” ucap Sora pelan, lalu segera berbalik dan meninggalkan rumah keluarga Devan.
Langkahnya cepat, seolah ingin secepatnya menghilang dari situ.
Dan Devan hanya memandangi punggungnya, untuk beberapa saat lebih lama dari yang seharusnya.
---
Sora membuka pintu rumah dan segera masuk, langkahnya sedikit tergesa. Dila, sang ibu, yang duduk di ruang tengah, langsung menyadari ada sesuatu dari raut wajah anaknya.
“Gimana? Udah dikasihkan makanannya?” tanya Dila penasaran.
Sora menghela napas, meletakkan sandal dengan cepat lalu menjawab, “Nggak, Ma. Makanannya jatuh.”
Dila membelalak kaget. “Loh? Kok bisa jatuh?”
“Kamu pasti nggak hati-hati, ya?” tuduhnya cepat.
Sora mengerucutkan bibirnya. “Aku udah hati-hati banget, Ma. Tapi aku kaget... anaknya tiba-tiba muncul dari belakang.”
“Oh ya ampun…” Dila memukul pelan dahinya. “Mama lupa bilang, mereka memang punya anak seusiamu.”
Ia tampak berusaha mengingat sesuatu.
“Katanya sih satu sekolah juga... siapa ya namanya…”
“Devan,” sahut Sora singkat.
Dila langsung menunjuk seolah ingat. “Nah iya! Devan! Kamu kenal?”
Sora menggeleng sambil menuruni sepatu. “Nggak juga. Kami beda kelas. Cuma... ya, hari ini sempat ketemu.”
“ohya?” Dila menaikkan alis.
Sora buru-buru menambahkan, “Nggak ada apa-apa. Aku cuma tahu namanya, itu pun karena orang lain yang bilang. Aku nggak kenal dia.”
Dila mengangguk, meski matanya masih curiga.
“Jadi... makanannya benar-benar nggak sampai?” tanya Dila memastikan lagi.
Sora hanya mengangguk pelan.
“Yah… ya udah deh. Nanti kamu antar lagi aja. Tapi lain kali kamu lebih hati-hati, ya.”
Sora langsung memotong. “Nggak, Ma. Mama aja yang antar. Aku udah malu banget.”
Tanpa menunggu jawaban, Sora langsung naik ke kamarnya.
“Dasar anak ini...” gumam Dila sambil tersenyum geli, meski tak memaksa. Ia tahu benar watak anaknya satu ini—kalau sudah bilang ‘nggak’, susah dibantah.
---
Malam itu, keluarga Bimantara duduk di meja makan, menikmati hidangan sederhana dalam suasana yang tenang.
“Bagaimana harimu, Pa?” tanya Dila sambil menyendok sayur, mencoba memulai percakapan.
“Cukup melelahkan, Ma,” jawab Bima, suaminya. “Sepertinya hari-hari di Jakarta ini bakal panjang.”
Dila hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.
“Sora, gimana sekolah tadi?” tanya Bima kini beralih ke putrinya.
“Biasa aja,” jawab Sora singkat, masih sibuk dengan makanannya.
“Sudah punya teman?” lanjut Bima.
Sora menggeleng pelan. “Aku nggak mau punya teman di sini.”
Bima dan Dila saling melirik. Sekilas, tapi penuh makna.
“Kenapa?” tanya Bima hati-hati. “Ada yang nggak baik sama kamu?”
Sora terdiam sebentar sebelum menjawab. “Aku cuma... nggak mau kehilangan lagi, Pa.”
“Gimana kalau nanti Papa dipindahtugaskan lagi?” suaranya terdengar pelan, nyaris seperti bisikan.
Bima menatap putrinya, matanya melembut. “Tenang aja, Nak. Sepertinya kita bakal cukup lama di Jakarta kali ini.”
“Seberapa lama?” balas Sora cepat. “Paling lama juga dua tahun, kan?”
Tak ada jawaban. Bima dan Dila terdiam. Mereka sendiri tak tahu pasti.
Sora meletakkan sendoknya. “Sora udah kenyang, Pa, Ma. Mau ke kamar belajar.”
Dila mengangguk pelan. “Iya, Nak.”
Sora bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamarnya. Suasana di meja makan menjadi sepi sesaat.
“Dia pasti kesepian, Pa,” ucap Dila pelan, menatap ke arah tangga.
“Sejak SMP... dia nggak pernah benar-benar punya teman dekat.”
Bima menarik napas panjang. “Ya, mau gimana lagi, Ma. Itu bagian dari pekerjaan Papa.”
“Tapi... Papa akan coba bicara ke atasan. Siapa tahu kita bisa lebih lama di sini.”
Dila menatap suaminya, penuh harap. “Semoga.”
---
Keesokan harinya, Sora datang cukup pagi. Masih ada dua puluh menit sebelum kelas dimulai. Ia memutuskan untuk berjalan ke perpustakaan setelah mendengar dari beberapa siswa bahwa perpustakaan di sekolah ini cukup nyaman.
Sesampainya di sana, Sora melihat rak-rak tinggi tersusun rapi, penuh dengan berbagai macam buku.
"Selamat pagi. Eh, anak baru ya?" sapa penjaga perpustakaan yang sedang duduk di meja depan.
"Ah, pagi, Bu," jawab Sora sambil sedikit menunduk.
"Iya, saya Sora, kelas 11-3."
"Oh, halo Sora. Ada yang bisa Ibu bantu?"
"Enggak, Bu. Saya cuma mau lihat-lihat saja."
"Silakan ya. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan. Kalau mau pinjam buku juga boleh. Minimal tiga buku, ya," jelas penjaga itu sambil tersenyum.
Sora mengangguk mengerti. Ia lalu mulai menyusuri rak-rak yang berjajar, memandangi deretan buku yang tertata rapi. Jujur saja, Sora bukan tipe yang suka membaca. Tapi mungkin saja ia akan menemukan satu dua buku yang menarik.
Ia berhenti di rak bertema kesenian dan budaya. Ada satu buku yang menarik perhatiannya, namun letaknya cukup tinggi.
Sora mencoba meraihnya, tapi tangannya belum sampai. Ia lalu mencoba sedikit melompat, berharap bisa mengambil buku itu.
Usahanya berhasil. Buku itu berhasil ia tarik, tapi beberapa buku lain ikut jatuh bersamaan.
Brukk...
Buku-buku tebal berjatuhan, membuat Sora spontan menunduk dan menutup kepala dengan tangan. Ia bersiap untuk terkena hantaman.
Namun anehnya, tak satu pun buku menyentuh tubuhnya.
Perlahan Sora membuka mata, lalu menoleh ke arah belakangnya.
Di sana, berdiri seseorang yang baru saja menahan tumpukan buku agar tidak menimpanya.
---
Continue