Rabu sore, Sabelle meletakkan dua halaman pada meja setelah pelayanan toko selesai. Halaman pertama berisi bagian pernyataan Peter yang menyangkut keluarga. Halaman kedua berisi catatannya sendiri. Emily berada di dekat, menyiapkan tempat bagi Shalter yang masih mengikuti kegiatan sesuai jadwal. Mereka mempunyai waktu sebelum anak pulang untuk membahas tanpa suara kecil yang harus menebak dari sela pintu.
Sabelle sudah membaca beberapa kali. Ia tidak sedang menilai apakah Peter terdengar cukup sedih. Ada hal yang jauh lebih nyata untuk dipilih: nama, informasi tentang anak, dan gambaran hubungan yang mungkin dipakai orang setelah mikrofon dinyalakan. Kata istri akan menjelaskan sebagian, tetapi tidak boleh disambung cerita bahwa mereka sedang kembali membangun rumah bersama.
'Aku ingin dia menyebut namaku,' katanya setelah lama diam. 'Nama depan saja. Sabelle.'
Emily menatapnya dengan hati-hati. Ia menanyakan apakah itu pilihan putrinya atau sesuatu yang terasa perlu agar orang berhenti menuduh. Sabelle mengatakan dua hal tersebut tidak sepenuhnya terpisah. Ia memang terluka disebut perempuan asing yang memaksa. Namun ia juga ingin menentukan sendiri bagian yang boleh disampaikan, bukan terus menjadi sosok samar sementara orang lain merasa bebas memberinya semua nama buruk.
'Aku tidak mau menyerahkan fotoku dan Shalter sebagai bukti,' lanjutnya. 'Dia dapat mengatakan yang benar tanpa memajang semua yang pernah kami simpan.'
Ibunya mengangguk. Mereka melihat batas yang sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya dan memeriksa apakah ada bagian berubah. Tidak ada persetujuan menghadirkan anak, menyebut nama lengkapnya, atau memberikan usia serta sekolah untuk memudahkan orang mencari. Cerita rumah sakit, panggilan lama, dan rincian pernikahan yang tidak perlu dijelaskan tetap menjadi bagian pribadi.
Sabelle menandai kalimat yang dapat membuat orang menyangka dirinya menunggu Peter selama tiga tahun tanpa kehidupan lain. Ia memang pernah mencari dengan putus asa dan masih mempunyai luka. Tetapi ia juga membangun toko, mendampingi Shalter, serta mempunyai orang yang hadir tanpa membicarakan popularitas. Semua itu tidak perlu diperkecil agar pengakuan Peter terdengar lebih mengharukan.
Ia menghubungi pada waktu yang disepakati. Peter menjawab dan menunggu ketika Sabelle membacakan kebutuhannya satu demi satu. Nama depan boleh disebut sebagai istri yang sudah ada sebelum keberangkatan ke New York. Anak cukup disebut putra, tanpa identitas yang menambah pencarian. Tidak ada janji rujuk, tidak ada cerita bahwa Sabelle telah memaafkan, dan tidak ada permintaan dukungan penonton supaya ia menerima kembali.
'Aku setuju kamu mengatakan kebenaran itu,' ujarnya. 'Bukan berarti aku menyetujui seluruh pilihanmu dulu atau seluruh keputusanmu nanti.'
'Aku mengerti perbedaannya,' jawab Peter. 'Aku akan memperbaiki bagian yang kamu tandai.'
Ia menanyakan apakah ada batas lain untuk pertanyaan media. Sabelle mengatakan hal yang tidak disetujui tidak boleh berubah menjadi boleh hanya karena seseorang bertanya dengan lebih keras. Jika ada kebutuhan di luar itu, ia dapat menjawab tidak membahas rincian. Peter harus menanggung ketidaknyamanan yang datang, bukan mengembalikannya ke pintu toko dengan alasan orang masih penasaran.
Penghubung menerima perubahan sesudahnya dan mengirim kembali bagian yang berkaitan. Sabelle membaca, memastikan nama depan serta batas anak sesuai, lalu mengonfirmasi. Waktu sesi Kamis dapat diteruskan dengan pengaturan tersebut. Ia tidak diminta datang untuk latihan terakhir atau memberikan rekaman dukungan sebagai pengganti kehadiran.
Setelah panggilan selesai, Emily menanyakan apakah ingin menonton saat berlangsung. Sabelle memandang halaman cukup lama sebelum menggeleng. Ia ingin melanjutkan kebutuhan yang sudah direncanakan bersama anak, kemudian menerima ringkasan serta rekaman yang dapat dipilih dilihat sendiri. Melihat langsung bukan syarat agar persetujuan informasinya dianggap sungguh diberikan.
'Boleh Ibu menerima kabar kalau ada hal penting yang perlu kutahu?' tanyanya.
'Boleh. Aku tidak akan membukakan seluruh komentar untukmu.'
Mereka menyepakati siapa yang mengurus kebutuhan pekerjaan toko serta siapa yang menemani Shalter. Anak itu tetap mempunyai kegiatan biasa. Keluarga tidak akan berkumpul di depan televisi sambil menunggu apakah Daddy berhasil membuat semua orang menyukai lagi. Perasaan seorang anak tidak perlu bergantung pada tepuk tangan orang dewasa yang tidak dikenalnya.
Ketika Shalter pulang, Sabelle memberitahukan rencana esok dengan kata sederhana. Peter akan berbicara kepada orang yang menanyakan foto, menjelaskan bahwa dirinya mempunyai keluarga, dan meminta agar anak tidak terus ditanyai. Shalter tidak perlu ikut, menjawab telepon orang asing, atau mempelajari apa yang harus dikatakan.
'Nama aku disebut?' tanyanya.
'Tidak. Itu sudah dibicarakan. Daddy akan menyebut punya putra, tanpa memberi nama atau sekolahmu.'
'Mommy masuk televisi juga?'
'Aku tidak datang ke sana. Kita tetap mengurus hari kita seperti rencana.'
Shalter memandang tas yang ditaruh di kursi, lalu bertanya apakah jadwal bermain berikutnya berubah. Sabelle mengatakan belum ada perubahan yang perlu diterima sekarang. Bila ada, mereka akan membicarakan dengan jelas, tidak menunggu sampai ia sudah duduk memegang telepon. Anak itu mengangguk dan menanyakan makanan yang akan dibawa pada kegiatan esok.
Mereka memilih bekal bersama sebelum tas dibereskan. Sabelle mendengarkan perdebatan kecil tentang buah dan roti, membiarkan percakapan berakhir pada kebutuhan Shalter sendiri. Besok boleh menjadi hari penting bagi pekerjaan Peter, tetapi putranya tetap berhak memikirkan makan siang serta teman bermain, tanpa merasa sedang mengabaikan masalah keluarga.
Malamnya Sabelle menyimpan salinan persetujuan bersama catatan yang mudah ditemukan. Ia menulis kepada Peter bahwa tidak akan berada pada sesi dan meminta kabar melalui jalur yang telah disepakati. Lelaki itu membalas menerima, tanpa mengatakan dirinya membutuhkan wajah keluarga untuk berani menghadapi pertanyaan.
Sabelle menutup telepon dan memandang toko yang lampunya mulai dipadamkan. Nama di mulut Peter esok mungkin membuat orang menghubungkan banyak hal yang belum pernah dipilihnya untuk menjadi perhatian. Namun kali ini ia telah berbicara lebih dahulu, menetapkan bagian yang boleh dibawa, serta mempertahankan hak tidak tampil. Ia tidak lagi menunggu di lobi meminta seseorang menyampaikan bahwa dirinya ada. Kebenaran itu akan diucapkan orang yang selama ini menghindar, dan sesudahnya Sabelle tetap dapat menentukan apa yang ingin dijalankan dengan hidupnya sendiri.