Dua kilometer pertama berjalan seperti yang dijanjikan brosur. Sungai melebar dan tenang, memantulkan dinding hutan di kedua tepi yang begitu hijau sampai terasa basah hanya dengan memandangnya. Burung enggang melintas tinggi, dua ekor, kepak sayapnya berbunyi seperti orang mengipas dengan kertas tebal, dan Doni hampir menjatuhkan ponselnya saking sibuk merekam. Reza memandu dengan suara rendah dan ringan, menunjuk pohon ulin tua di tepian, menjelaskan kenapa airnya jernih di sini, menyebut nama-nama jeram kecil yang mereka lewati seolah memperkenalkan tetangga: Riam Tikus, Riam Patah, Liku Tujuh.
"Mas Reza dari sini juga?" tanya Lina dari haluan. Ia mendayung dengan ritme yang lumayan, tak seperti Wahyu yang masih menebas air seperti memukul nyamuk.
"Desa sebelah hilir, Mbak. Tumbang Riam. Saya lahir dengar suara sungai ini tiap malam." Reza mengoreksi dayung Wahyu dengan satu kalimat halus, "Tarik dari pinggang, Mas, bukan dari bahu, nanti capek di kilometer empat." Wahyu menurut, dan dayungannya langsung lebih bersih. Lina tersenyum padanya.
Di belakang, Pak Daud mengisi kesunyian dengan cerita-cerita lama, separuh untuk menghibur, separuh untuk menjaga Reza tetap tenang lewat suara yang akrab. Ia bercerita tentang hujan di pegunungan yang tak pernah orang hilir lihat. "Di atas sana," katanya sambil mengarahkan dagunya ke hulu, ke punggung gunung yang tetap tersembunyi di balik hutan, "bisa hujan tiga hari tiga malam, dan di sini matahari terang benderang. Sungai ini kayak orang yang nyimpen marah. Dari mukanya kamu nggak akan tahu, sampai tiba-tiba meledak." Ia tertawa kecil, menjadikannya lelucon. "Tapi itu jaman dulu, sebelum ada ramalan cuaca. Sekarang sudah lebih aman."
Bram tidak ikut tertawa. Ia duduk kaku di tengah perahu, memegang sisi tabung dengan kedua tangan walau airnya tenang, dan sesekali tangannya kembali menepuk kantong celananya yang tertutup dry pants. Reza memperhatikan bahwa Bram tak pernah benar-benar mendayung, hanya menggerakkan dayung di permukaan agar terlihat ikut. "Kapan kita sampai titik jemput?" tanya Bram, untuk kedua kalinya dalam setengah jam.
"Sebelum tengah hari, Pak. Riam Bungai. Kilometer delapan."
"Ada sinyal di sana?"
"Ada sedikit. Kadang naik kalau cuaca bagus."
Bram mengangguk, lebih untuk dirinya sendiri, dan tangannya kembali ke kantong itu. Reza mencatat gerak itu di sudut pikirannya, di tempat yang sama di mana ia menyimpan tas biru Sari yang tak mau dilepas dan dada Pak Daud yang kadang berdesir. Hal-hal kecil yang belum berarti apa-apa, yang ia kumpulkan tanpa sadar seperti orang memungut kerikil di saku.
Di kilometer keempat, Reza memperhatikan sesuatu yang membuat perutnya mengeras pelan, seperti tali yang ditarik satu jari lebih kencang.
Warnanya.
Di sela-sela air hijau jernih, mulai muncul guratan-guratan cokelat tipis, datang dari arah hulu, melilit di antara arus seperti susu yang dituang ke teh dan belum sempat tercampur. Ranting kecil lewat. Lalu daun. Lalu sehelai pelepah pisang utuh, hanyut cepat melawan ketenangan permukaan, seolah didorong oleh sesuatu di bawah yang lebih kuat dari yang terlihat. Reza tahu apa artinya cokelat. Cokelat berarti tanah. Tanah berarti air sedang mengikis tebing jauh di hulu, dan tebing terkikis berarti hujan, hujan deras, hujan yang sedang turun saat ini juga di tempat yang tak bisa mereka lihat.
Ia menoleh ke Pak Daud. Senior itu sudah melihatnya. Senyumnya masih ada tapi matanya tidak ikut tersenyum lagi. Mereka tak bertukar kata. Pak Daud hanya mengangkat dua jari ke arah hilir, isyarat lama di antara pemandu: percepat, menuju titik aman.
"Kita tambah tempo, ya, Bapak-Ibu," kata Reza, menjaga suaranya tetap ringan, riang bahkan, seperti pelatih yang menyemangati. "Biar nggak kesiangan, warung kopinya keburu tutup." Beberapa orang tertawa dan mulai mendayung lebih bersemangat. Hanya Pak Hamonangan, guru tua itu, yang menatap air dengan dahi berkerut, lalu menatap Reza. "Airnya berubah warna," katanya pelan, hanya untuk Reza.
"Iya, Pak. Biasa kalau ada hujan di atas. Kita lewat jeram tengah sebentar lagi, habis itu landai sampai jemputan." Reza tersenyum, dan ia benci betapa mudahnya ia tersenyum sambil hatinya menghitung. Empat kilometer lagi ke Riam Bungai. Kalau air dari hulu masih sehari perjalanan, mereka aman. Kalau air itu sudah dekat, kalau cokelat ini cuma pembuka...
Ia tak menyelesaikan pikirannya. Ia mendayung. Ia menghitung tikungan. Di setiap tikungan ia berharap melihat batu putih besar penanda Riam Bungai, dan di setiap tikungan yang muncul hanya hutan dan lebih banyak cokelat di air. Permukaan sungai naik tipis, sehasta mungkin, cukup untuk menutup batu-batu kecil yang tadi mengintip di tepian. Arus yang tadi malas kini punya otot, mendorong perahu lebih cepat dari dayungan mereka, dan untuk pertama kalinya hari itu Reza tak perlu menyuruh siapa pun mempercepat tempo karena sungai sudah melakukannya untuk mereka.
"Kita cepat banget sekarang," Doni tertawa, senang, mengarahkan kamera ke air yang berkejaran di sisi perahu. "Seru!"
"Pegang tali keselamatan, semua," kata Reza, dan kali ini suaranya kehilangan keriangannya. Tangan-tangan mencari tali. Lina memegang lengan Wahyu lebih dulu. Sari memeluk tas birunya dengan satu tangan dan tali dengan tangan yang lain. Bram menggenggam tabung sampai buku jarinya putih.
Di depan, di balik tikungan terakhir sebelum Riam Bungai, terdengar suara yang seharusnya tidak ada di sana. Bukan deru jeram kelas tiga yang Reza hafal. Ini lebih dalam, lebih rata, suara yang terasa di tulang dada sebelum sampai ke telinga, suara air dalam jumlah yang tak masuk akal bergerak ke arah mereka. Pak Daud berdiri sebentar di buritan, mencoba melihat ke balik tikungan, dan wajahnya, yang dua puluh tahun tak pernah Reza lihat takut, berubah pucat.
"Za," katanya, dan hanya itu, hanya nama Reza, tapi cara ia mengucapkannya membuat seluruh rambut di lengan Reza berdiri.