Selama beberapa hari Maryam berhasil tidak memikirkannya. Hidup punya cara untuk menutupi keganjilan dengan kesibukan. Ada tiga jenazah dalam empat hari, dua tua satu bayi prematur, dan Maryam memandikan ketiganya dengan tangan yang sama tenangnya, doa yang sama hafalnya. Laras kembali sekolah setelah sakit perutnya sembuh. Listrik di rumah sempat mati semalaman dan Maryam sibuk mengurus tagihan. Nama di buku tamu menjadi sesuatu yang ia letakkan di rak belakang ingatannya, di antara hal-hal yang lebih baik dilupakan.
Tetapi pada hari kelima, di pagi yang sepi tanpa jenazah, Maryam mendapati dirinya berdiri di depan meja buku tamu dengan jantung yang berdetak lebih cepat daripada yang ia inginkan. Rumah duka kosong. Tidak ada jenazah di aula, tidak ada pelayat, tidak ada yang datang sejak subuh kecuali dirinya dan Pak Salim, penjaga malam, yang sudah pulang. Ia sendirian. Dan ia membuka buku itu.
Halaman demi halaman ia balik, melewati nama-nama pelayat lama, melewati tanggal-tanggal, melewati tahun-tahun yang sudah pudar. Buku ini tebal, dan Maryam baru sadar betapa jauh ke belakang ia bisa membaliknya. Lalu ia sampai di bagian belakang, di halaman-halaman yang seharusnya masih kosong karena buku ini belum penuh. Di situlah ia menemukan halaman ganjil itu untuk pertama kalinya benar-benar memperhatikannya.
Ia selalu berpikir buku ini terisi dari depan ke belakang, sebagaimana buku semestinya. Tetapi di lembar-lembar belakang yang ia kira kosong, ada tulisan. Bukan nama pelayat. Daftar nama, ditulis satu per satu dari atas ke bawah, masing-masing dengan tanggal di sampingnya, masing-masing dengan kata kecil di bawahnya: sudah. Tulisan tangannya seragam, rapi, dingin, tidak berubah dari nama paling atas sampai nama paling bawah, seakan ditulis oleh satu tangan yang sama sepanjang puluhan tahun. Tri Handoko ada di sana, dekat bagian bawah. Dan di bawah Tri Handoko, sebuah nama baru. Tintanya basah.
Maryam tidak menyentuhnya kali ini. Ia hanya membacanya. Sukinem. Di sampingnya, sebuah tanggal: tujuh hari dari hari ini. Dan di bawahnya, ruang kosong tempat kata sudah biasanya muncul, masih kosong, masih menunggu.
Sukinem. Maryam mengenal nama itu dengan jelas dan langsung, dan justru kejelasan itu yang membuat lututnya lemas. Bu Sukinem adalah tetangganya, satu RT, rumahnya tiga pintu dari rumah Maryam. Perempuan lima puluhan yang berjualan sayur keliling dengan sepeda, yang tiap pagi lewat depan rumah Maryam sambil berteriak menawarkan kangkung dan tahu. Kemarin sore Maryam baru saja membeli bayam darinya. Bu Sukinem sehat. Bu Sukinem tertawa kemarin, mengeluh pinggangnya pegal mengayuh sepeda, tetapi tertawa, hidup, berkeringat di bawah matahari sore.
Maryam menutup buku itu dengan keras, lalu membukanya lagi, seakan dengan menutup dan membuka ia bisa mengubah apa yang tertulis. Nama itu tetap ada. Tinta basah perlahan mengering di udara dingin, sama seperti nama Tri Handoko mengering seminggu lalu. Ia mengusap matanya. Ini tidak masuk akal. Tidak ada yang masuk di sini sejak subuh. Pintu terkunci sampai ia membukanya tadi. Tidak ada jendela yang terbuka. Tidak ada orang. Dan toh ada nama baru, basah, ditulis di antara subuh dan sekarang oleh tangan yang tidak ada.
Dia mencoba berpikir seperti orang waras. Mungkin tinta jenis tertentu memang lama keringnya, dan nama itu sudah ditulis kemarin oleh seseorang yang punya akses, dan tampak basah hanya karena kelembapan ruangan. Mungkin ada orang iseng, anak-anak, atau pegawai lain yang menulis nama tetangga sebagai kebetulan. Tetapi setiap penjelasan yang ia susun runtuh di hadapan satu hal sederhana: ia mengenali pola. Tri Handoko, mati seminggu setelah namanya muncul. Dan kini Sukinem, dengan tanggal tujuh hari ke depan.
Maryam berdiri di ruangan kosong itu untuk waktu yang lama, dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, ruang yang biasa terasa damai itu terasa seperti sedang mengawasinya. Ia mengambil pena dari saku, lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuliskan tanggal hari ini di selembar kertas terpisah dan menyimpannya di dompet. Sukinem. Muncul hari ini. Mati—ia menulis tanda tanya, lalu tanggal tujuh hari ke depan. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena mencatat adalah satu-satunya cara ia tahu untuk menghadapi sesuatu yang tidak ia mengerti. Mencatat adalah pekerjaannya. Mencatat membuat kekacauan terasa bisa diurus.
Sorenya, dalam perjalanan pulang, Maryam sengaja lewat depan rumah Bu Sukinem. Sepeda sayur disandarkan di dinding, keranjangnya kosong, dagangan habis. Dari dalam terdengar suara radio dan suara Bu Sukinem mengomeli cucunya yang tidak mau mandi. Hidup. Sangat hidup. Maryam berdiri di seberang jalan beberapa saat, memandangi pintu rumah itu, dan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan terhadap tetangga sendiri: rasa takut yang bercampur dengan rasa bersalah, seolah ia tahu sesuatu yang seharusnya ia katakan tetapi tidak punya kata-kata yang akan dipercaya.
Apa yang akan ia katakan? Bu, namamu muncul di buku tamu rumah duka, dan orang yang namanya muncul di sana akan mati dalam tujuh hari? Bu Sukinem akan tertawa, atau lebih buruk, akan menceritakannya pada seluruh RT bahwa Maryam si tukang mandi mayat sudah mulai gila, kebanyakan bergaul dengan orang mati. Maryam tahu bagaimana orang memandang pekerjaannya. Dihormati di permukaan, dijauhi diam-diam. Ia tidak akan menambah alasan untuk dijauhi.
Di rumah, Laras sedang mengerjakan tugas di meja, kepalanya tertunduk di atas buku, lampu belajar menerangi wajahnya yang masih kanak-kanak meski sudah tujuh belas. Maryam berdiri di ambang pintu memandangi anaknya lebih lama dari biasanya. "Ibu kenapa?" tanya Laras tanpa mengangkat kepala. "Capek banget kayaknya."
"Iya, capek," jawab Maryam. "Sudah makan?"
Malam itu Maryam tidak bisa tidur. Ia berbaring memandangi langit-langit, dan setiap kali ia menutup mata, ia melihat tulisan rapi itu, dingin dan sabar, dan kata kecil yang menunggu di bawah nama Bu Sukinem: ruang kosong, belum terisi, menanti untuk diisi dengan kata sudah. Ia menghitung hari di kepalanya, dan berdoa, dengan setengah hati yang malu pada dirinya sendiri, supaya ia salah.